Sejarah Berdirinya

KOMUNITAS HISTORIA INDONESIA
[Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia]


A. Latar Sejarah Berdirinya Komunitas Historia Indonesia

Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Komunitas Historia, pada awalnya didirikan karena keprihatinan beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) –dahulu IKIP Jakarta dan mahasiswa jurusan sejarah Universitas Indonesia (UI) terhadap kondisi masyarakat yang enggan mempelajari sejarah dan budaya bangsa. Banyak diantara masyarakat yang tidak peduli dengan potensi sejarah dan budaya yang dimilikinya. Apa lagi jika dikaitkan dengan pelajaran sejarah di sekolah yang sering diangap sebagai pelajaran yang katro, gak gaul dan tidak menyenangkan.Inspirasi dibentuknya Komunitas Historia sebenarnya bermula dari buah pemikiran sang pendiri, Asep Kambali (mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta, yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Sejarah UNJ) yang menggelar Lomba Lintas Sejarah bagi siswa SMA se-Jabodetabek.

Dalam kegiatan ini, menurut Udjo (panggilan akrab Asep Kambali) para siswa diajak untuk melakukan napak tilas, semacam amazing race, ke berbagai museum yang berhubungan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia selama satu hari penuh. Kegiatan yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI ini ternyata mendapat respon positif dari berbagai pihak dan sangat dinikmati oleh para peserta lomba.

Kegiatan yang diharapakan dapat dilanjutkan oleh pengurus BEM berikutnya, ternyata berhenti setelah kepengurusan Asep digantikan. Kalau pun ada, konsepnya memiliki nama dan bentuk yang berbeda.

“Saya pikir sayang kalau kegiatan ini berakhir begitu saja. Tetapi bagaimana caranya supaya saya tetap bisa punya wadah untuk melakukan kegiatan itu? Lahirlah kemudian konsep awal Komunitas Historia.”

Kesepakatan dibentuknya Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia atau disingkat KPSBI-HISTORIA dengan Asep Kambali sebagai ketua di hasilkan pada forum rapat di UNJ Rawamangun pada 22 Maret 2003. Belakangan di bawah pimpinannya, KPSBI-HISTORIA namanya lebih dikenal orang dengan sebutan Komunitas Historia Indonesia.

Menurut Bondet (Humas Historia), hubungan baik yang dibina Komunitas Historia dengan berbagai pihak, terutama yang terkait dengan pendidikan, pariwisata, sejarah dan museum, akhirnya membawa Asep dan Komunitas Historia menjadi mitra utama berbagai pengelola bangunan tua di Jakarta, seperti Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Kantor Pos Jakarta Taman Fatahillah, Musuem Juang 45, Café Batavia, Xpose Cafe, Cafe Galangan, Museum Bahari, Museum Kebangkitan Nasional dan lain sebagainya.

Selain itu, menurut Bondet, kerjasama dengan berbagai media masa, baik elektronik maupun cetak, menjadikan Komunitas Historia namanya dikenal orang. Ini yang kemudian Komunitas Historia dipercaya menjadi mitra berbagai program radio dan televisi. Program “Magic of Jakarta” misalnya, merupakan kerjasama antara Radio Ramako 105,8 FM dengan Komunitas Historia dalam membedah sejarah dan budaya Jakarta yang digelar setiap hari Senin sampai Jumat pada pukul 13.30-14.00 wib. Program ini sudah berjalan sejak 1 Maret – April 2007. Program lain seperti “Moorning Machine Jalan-Jalan” di Radio Otomotion 97,5 FM, Radio One 101 FM, Radio Bahana, Radio Ras FM, Radio Female – Delta FM, Radio Pro-3 RRI, Radio Internet streaming: Voice of Human Rights (VHR), dll, merupakan wujud peran diakuinya kompetensi Komunitas Historia sebagai organisasi yang estabelished.

Kerjasama dengan stasiun televisi, misalnya program “Pagi Jakarta” O Channel TV, Historia pernah nebeng membahas tentang Komunitas Historia dan peranannya terhadap pelestarian bangunan-bangunan cagar budaya (BCB) di Kota Jakarta. Beberapa kali juga Komunitas Historia menjadi nara sumber di Daai TV Taiwan; dalam program “Archipelago” Metro TV; program “Good Morning” Trans TV; “Jali-Jali” dan “DKI’15” O-Channel; “On The Spot Weekend” ANTV; Elshinta TV, Studio Someone, Astro TV, dan masuk ke berbagai program news di hampir semua stasiun TV.

Kerjasama yang demikian baik ini membuahkan hasil, kiprah Komunitas Historia sebagai Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia yang “gaul dan enak dikonsumsi” semakin membumi di dalam hati masyarakat. Tak ketinggalan publikasi yang gencar dilakukan melalui berbagai media cetak lokal, nasional dan internasional, seperti KOMPAS, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Majalah Femina, ReadersDigest Indonesia, Warta Kota, INA Magajine, Koran Nederland, The Jakarta Post dan sebagainya menjadikan sarana pendukung pertumbuhan Komunitas Historia semakin pesat.

Nani Kusrini, Bagian Administarsi Komunitas Historia menyayangkan, karena tidak semua dokumentasi berupa kliping media cetak, voices record dari radio, dan copy-an acara dari stasiun TV itu di dapatkan oleh Komunitas Historia. Karena ada beberapa yang jika ingin memilikinya harus melalui proses birokrasi yang njelimet. Ini yang menjadikan Komunitas Historia hanya memiliki beberapa saja dokumentasinya.

Ide dasar didirikannya Komunitas Historia sebenarnya sebagai upaya dalam membentuk wahana belajar kaum muda dalam mencari format dan strategi bagaimana sesungguhnya menjadikan sejarah dan budaya itu menjadi objek yang menarik, menyenangkan dan bermanfaat. Kemudian, muncullah konsep kegiatan yang “rekreatif, edukatif dan menghibur” sebagai strategi utama Komunitas Historia dalam mengembangkan pola pikir masyarakat terhadap sejarah dan budaya sehingga tercipta suasana yang menyenangkan dan membekas di hati mereka.

Kalau biasanya mereka membenci sejarah dan menganggap sejarah itu membosankan, garing, ngebetein, bikin ngantuk dan seribu ejekan lain, maka dengan bergabung di dalam Komunitas Historia mereka akan menemukan tempat dimana mempelajari dan mencintai sejarah dan budaya itu tanpa paksaan dan apa adanya. Kondisi demikian lah yang dikenal sebagai kesadaran sejarah.

“Yang kami lakukan adalah bagaimana membuat sejarah menjadi menarik dan menyenangkan. Sehingga pada akhirnya orang dengan mudah mendapatkan pelajaran dari pengetahuan tentang suatu peristiwa sejarah.”


B. Visi dan Misi Komunitas Historia

Komunitas Historia memiliki visi untuk membangun kesadaran sejarah dan budaya masyarakat Indonesia yang pada akhirnya kesatuan dalam perbedaan atau Nasionalisme sebagai visi terakhir dari Komunitas Historia akan tercapai. Pendiri sekaligus ketua Komunitas Historia, Asep Kambali mengungkapkan bahwa:

“Komunitas ini ada karena satu kegelisahan. Sejarah kok membosankan. Orang juga cenderung meninggalkan sejarah, enggan belajar dari pengalaman sejarah.”

Asep juga menambahkan bahwa Komunitas Historia mengacu kepada tiga hal penting dalam misinya guna mewujudkan setiap program komunitasnya. Pertama bahwa kegiatan Komunitas Historia itu harus bersifat rekreasi-langsung atau mengalami. Karena dengan proses mengalami sejarah akan mudah dicerna dan diingat.

Perhatikan kutipan di bawah ini:

“Lain lagi alasan Fersita, ibu dua anak, Alesaa (8) dan Gio (6), warga Kebayoran Baru. Ia ingin memberikan pengetahuan pada anaknya tentang sejarah Jakarta sedini mungkin. Mungkin di sekolah juga diajarkan, namun tidak mengalami sendiri. "Mendengarkan di kelas dengan di lokasi kejadian itu lain lho. Dengan begini, ingatan akan melekat kuat, apalagi anak-anak," tutur Fersita yang sudah berkali-kali meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan Historia.”

Kedua, kegiatan Komunitas Historia harus mendidik. Hal ini mengingat bahwa sejarah dan budaya tentunya banyak mengandung unsur pengetahuan dan hikmah yang harus disampaikan secara edukasi agar mereka mendapatkan kemampuan kognisi dan afeksi sehingga memunculkan jiwa yang kritis terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketiga, unsur lain yang harus ada dalam mempelajari sejarah dan budaya yang diterapkan Komunitas Historia adalah dengan menambahkan unsur hiburan atau entertainment didalamnya. Ini akan menambah suasana jadi menyenangkan dan menggairahkan bagi siapa saja yang terlibat dalam program Komunitas Historia. Seperti dengan heritages games dan menonton film tempo doeloe di museum.


C. Program-Program Komuintas Historia

1. Jakarta Trail

Salah satu program Komunitas Historia yang dikemas dengan memadukan unsur rekreatif, edukatif dan menghibur yang kini digemari masyarakat adalah JakartaTrail. Program ini dimulai sejak awal tahun 2005 sampai sekarang. Kegiatan JakartaTrail sebelumnya bernama Wisata Kampung Tua –Museum Sejarah Jakarta yang digelar sejak tahun 2002 hingga 2005 yang dikelola bersama Komunitas Historia.

Jakarta Trail merupakan kegiatan jalan-jalan santai di siang atau sore hari untuk menelusuri jejak warisan sejarah dan budaya yang terdapat di Kota Tua Jakarta dan sekitarnya, atau tempat-tempat yang dinilai memiliki warisan sejarah dan budaya di Jakarta. Di kawasan ini terdapat banyak sekali situs bersejarah dan berbagai macam bangunan tua dari masa kolonial Belanda. Melalui kegiatan ini, diharapkan sejarah dan budaya Jakarta akan terkuak dan pesona serta potensi sejarah dan budaya sebagai asset pembelajaran dan pariwisata sejarah semakin dapat diwujudkan. Sehingga selain bernilai edukatif, juga mempunyai manfaat ekonomis.

Salah satu kegiatan JakartaTrail yang telah diselenggarakan oleh Komunitas Historia adalah JakartaTrails to Oud Batavia yang digelar pada akhir tahun 2006 lalu. Proses kegiatan biasanya dimulai dengan penentuan objek dan konsep kegiatan di dalam rapat kecil pengurus. Di mana Asep sebagai ketua mengarahkan jalannya rapat. Hal ini karena Asep lebih dipercaya memahami seluk beluk sejarah Kota Tua Jakarta dan mengetahui strategi bagaimana pendidikan sejarah Kota Tua Jakarta itu di sampaikan kepada masyarakat.

Setelah selesai dan didapatkannya keputusan, maka tahap selanjutnya mempersiapkan materi promosi dan publikasi yang berupa pamphlet dalam format soft copy dan hard copy. Format soft copy di up load ke dalam mailing list komunitashistoria@yahoogroups.com dan website www.komunitas-historia.org, serta berbagai milist lain di Indonesia. Dalam beberapa saat, respon masyarakat beragam. Ada yang langsung mendaftar ada pula yang menanyakan berbagai hal seputar kegiatan itu. Sementara, format hard copy disebarkan ke berbagai lokasi seperti museum-museum di Jakarta, kampus-kampus dan tempat-tempat strategis seperti halte Transjakarta –Busway, dan ke berbagai madding diseluruh Jakarta.

Setelah peserta terkumpul kurang dari 200 orang, barulah kegiatan itu digelar pada hari yang telah ditentukan. Kegiatan Jakarta Trail to Oud Batavia ini, peserta diajak menelusuri jejak peinggalan Batavia Lama di sekitar Kota. Diantaranya gedung Museum Sejarah Jakarta, yang dulu bekas Stadhuis VOC, Museum Bahari yang dulu bekas Gudang VOC, Pelabuhan Sunda Kalapa dan Jembatan Kota Intan yang dibangun VOC pada 1628 di atas Kali Besar. Acara ini diliput oleh berbagai media cetak maupun elektronik, seperti KOMPAS, JakTV, dan Metro TV.

Acara Jakarta Trails diakhiri dengan makan siang bersama, hiburan, aneka doorprizes dan menonton bersama film tempo doeloe. Setelah itu peserta dibubarkan karena acara selesai sudah ditutup setelah makan siang.

Pada kegiatan Jakarta-Trail ini inti sesungguhnya yang ingin disampaikan adalah ini loh bangunan tua peninggalan masa lalu bangsa kita yang seharusnya kita jaga dan kita pelihara demi generasi mendatang. Dengan strategi menyentuh human interest dan emotional sense peserta, kegiatan JakartaTrail ini menjadi lebih berbobot ketimbang jalan-jalan biasa. Karena sehabis mengikuti tour ini, diharapkan akan tumbuh kesadaran sejarah berupa koginsi dan afeksi terhadap bangunan-bangunan bersejarah di Kota Tua Jakarta.

2. Wisata Malam Kota Tua Jakarta

Kegiatan lain yang tak kalah menarik adalah Wisata Malam Kota Tua Jakarta, yaitu sebuah upaya penelusuran bangunan cagar budaya di Kota Tua Jakarta yang dilakukan pada malam hari. Kegiatan ini pada dasarnya ingin memberikan pengalaman berbeda dari Jakarta Trail yang diselengarakan pada siang hingga sore hari. Suasana malam memang terasa berbeda ketimbang siang hari. Selain malam relatif lebih teduh, bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial itu jika dipandang malam hari terasa lebih eksotis dan menarik bagi mereka yang hobi footograpi .

Wisata Malam Kota Tua Jakarta tidak jauh berbeda proses pelakasnaanya. Hanya saja bedanya dilakukan pada malam hari. Tujuannya pun sama, setidaknya para peserta dan masyarakat Jakarta sadar bahwa Kota Tua Jakarta, baik di siang maupun malam hari, tetap saja menyenangkan dan bermanfaat edukasi dan rekreasi.

Harapannya, kegiatan ini menjadi trend bagi pariwisata Jakarta yang mengalami kelesuan beberapa tahun terakhir. Posisi kegiatan ini sangat strategis dan bernilai ekonomis jika bisa didukung oleh semua elemen masyarakat dan pemerntah di DKI Jakarta.

3. Wisata Bahari: Historical Island Adventure

Wisata Bahari sebenarnya program penjelajahan laut menguak jejak Kolonial di Teluk Jakarta. Karena Teluk Jakarta adalah gerbang awal masuknya para penjelajah dunia ke Sunda Kalapa. Selain menelusuri pulau-pulau bersejarah di kawasan Kepulauan Seribu, kegatan ini diharapakan dapat mengembangkan kecintaan terhadap bahari dan situs bersejarah di Kepulauan Seribu.

Kegiatan Wisata Bahari digelar pada bulan November 2006, dan merupakan Wisata Bahari ke-3 yang telah diadakan oleh Komunitas Historia sejak tahun 2003. Kegiatan ini dikuti oleh 25 peserta dan diliput oleh media masa dai Kompas, Koran Tempo dan TPI.

Acara bertajuk Historical Island Adventure ini dilakukan selama dua hari satu malam, di dalamnya ada beberapa kegiatan seperti penelusuran bukti-bukti sejarah Kolonial di siang hari ke pulau Kelor, pulau Bidadari, dan Pulau Cipir. Sementara di pulau Onrust dilakukan night tour untuk menambah serunya acara. Night tour dilakukan dengan pertimbangan bahwa acara siang sepertinya biasa, dan malam akan sangat luar biasa. Apa lagi memasuki pekuburan orang-orang Belanda sejak masa VOC.

Salah seorang peserta, Iis dari Kebon Jeruk mengungkapkan, “acara ini bagus banget, sayang kedua anakku tidak ikut karena sedang ujian. Padahal kalau mereka ikut dan merasakan kegiatan unik ini, pasti menjadi pengalaman yang berharga buat mereka ketimbang pergi ke Mall terus.” Ungkap Iis mengebu-gebu kepada peneliti seusai makan malam.

Acara Wisata Bahari ini memang diakhir dengan bakar-bakar ikan dan makan malam bersama di pinggir pantai yang ditemani hangatnya api unggun menambah suasana jadi semakin menentramkan. Keesokan harinya, peserta diajak berkeliling Pulau Onrust yang dilihat semalam. Ternyata banyak peserta yang terkagum-kagum melihat berserakannya situs-situs sejarah dan arkeologi yang berantakan dan tak terawat.

4. Diskusi, Bedah Buku, Talkshow dan Seminar

Kegiatan ini merupakan ajang serius dan ilmiah bagi pengurus anggota Komunitas Historia. Kegiatan Bedah Buku, dan sejenisnya biasanya memadukan unsur diskusi ilmiah, jalan-jalan, hiburan dan makan-makan. Kegiatan ini menghadirkan para tokoh dan pakar sejarah dan budaya kenamaan seperti, dr. Roeshdy Hoesein, Alwi Shahab, Isa Anshari, Mona Lohanda, JJ. Rizal, dan lain sebagainya.

Bedah Buku Maria van Engels karangan Alwi Shahab misalnya yang diadakan di Museum Bank Mandiri, menghadirkan penulis sendiri dan dr. Roeshdy Hoesein untuk membedah film Jakarta Tempo Doeloe. Acara ini diadakan pada bulan April 2006 yang dihadiri hampir 75 orang peserta.

Kegiatan serupa digelar di Xpose Café, dengan nama Talkshow Sejarah Tionghoa. Acara ini dalam rangka memeriahkan Hari Raya Imlek 2007. kegiatatan yang didukung penuh oleh PT. POS Indonesia, Museum Bank Mandiri, Telkomsel, Yenny Ballet Schoole, Ragusa Ice Italia, dan Xpose Café membedah sejarah dan kebudayaan Tionghoa secara menalam.

Kegiatan ini menghadirkan para pembicara seperti JJ. Rizal (sejarawan UI), Suma Mihardja (Pakar Sejarah Tionghoa dari Majelis Tinggi Agama Tionghoa Indonesia), Asep Kambali (Komunitas Historia) dan Bapak Abdus Syukur (Kepala Unit Filateli Provinsi Jawa Barat). Dihadiri sekitar 60-an peserta dan diliput oleh Koran Era Baru dan TV Timur Tengah.

Masyarakat sangat antuasias mengikuti kegiatan ini, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang sangat mendasar seperti, apa sih artinya Tionghoa? Kenapa ada hari raya Imlek? Sekarang terjadi komsersialisasi Imlek, bagaimana dampaknya terhadap kebudayaan Tionghoa sendiri? Dan pertanyaan lain yang tidak bisa disebutkan astu persatu.

5. Bakti Sosial

Komunitas Historia juga memiliki program sosial yang dinamakan JakartaTrail: Social Ramadhan yang dipersembahkan khusus untuk anak jalanan di DKI Jakarta. Kegiatan ini didukung oleh GE Indonesia, Musuem Sejarah Jakarta, Komunitas Jayuzzz dan Pemda DKI. Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 100-an anak jalanan dari berbagai daerah di Jakarta itu mendapat sambutan meriah dari peserta dan masyarakat. Peserta diajak berkeliling ke kampung tua samping Kota Batavia yang dikenal dengan Kampung Arab. Peserta berkeliling menyusuri mesjid-mesjid peninggalan orang Arab yang dibangun sejak jaman baheula (zaman Kolonial).

Setelah asyik ber-walking tour ria, para peserta kembali ke Museum Sejarah Jakarta untuk penutupan dan makan malam. Di akhir acara GE menyerahkan bantuannya kepada para peserta, dilanjutkan dengan pemberian bantuan dari Komunitas Jayuzzz berupa uang dan lain-lain.

6. Historia Members Gathering

Historia Members Gathering merupakan wadah bertemunya para member Komunitas Historia yang diadakan dua bulan sekali. Biasanya digelar di Goedang Boekoe Pasar Festival Kuningan, Plaza Senayan, Plaza Indonesia, Sarinah dan lain sebagainya. Dalam kegiatan ini biasanya para member saling bertukar pikiran, sharing foto-foto kegiatan dan gambar-gabar tempo doeloe, film-film jadul dan lain-lain, yang diakhiri makan-makan bersama.

D. Jaringan Komunikasi Komunitas Historia

Menurut Humas Komunitas Historia, Bondet Proborini menjelaskan bahwa bangunan-bangunan lama di Kota Tua Jakarta memberikan kesan tersendiri bagi anggota Komunitas Historia, eksotis dan elegan. Apa lagi bagi mereka yang hobi fotografi atau sekedar jalan-jalan mengisi waktu luang. Sejak berdirinya Komunitas Historia tahun 2003 sampai sekarang, komunitas ini telah memiliki lebih dari 2050-an anggota yang tersebar di seluruh Indonesia dan manca negara.

1. Mailing List komunitashistoria@yahoogroups.com

Untuk memudahkan komunikasi antar anggota, Komunitas Historia mengembangkan jaringan komunikasi berbasiskan internet dalam e-mail berantai (mailing list) dan website. Tidak heran jika Komunitas Historia anggotanya terus bertambah setiap harinya, karena selain mudah diakses, jalan-jalan sambil belajar paling hemat biaya-biaya dan tenaga adalah dengan menjelajahi “dunia maya”. Komunitas Historia kini telah memiliki lebih dari 17.000-an caption di search engine www.google.com.

Komunitas Historia membahas sisi lain yang berbeda dari sejarah dan budaya suatu kota, tak heran jika kegiatan Komunitas Historia menjadi alternative hiburan ringan bagi para pekerja kantoran yang terlalu penat dengan urusan kantor dan sumpeknya gedung-gedung bertingkat dalam mengisi liburan akhir pekan atau weekend-an.

Tidak hanya sejarah dan budaya Jakarta yang diperbicangkan secara mendalam tetapi juga sejarah dan budaya Indonesia dibahas secara tuntas bersama para sejarawan senior seperti dr. Roeshdy Husein, M. Isa Anshari, Dr. Susanto Zuhdi, Budayawan senior seperti Alwi Shahab, Arkeolog senior seperti Mundardjito, Candrian Attahiyat, dan lain sebagainya ikut berperan.


2.
Website www.komunitashistoria.blogspot.com

Web Komunitas Historia akan menjadi strategis posisinya sebagai jaringan komunikasi dengan masyarakat Indonesia bahkan luar negeri. Hanya saja ini membutuhkan pengelolaan yang serius dan berkelanjutan. Untuk itu, Komunitas Historia mengajak para sponsor seperti perusahaan sawasta dan pemerintah untuk mengmbangakn website Komunitas Historia menjadi website yang mandiri.


E. Kepengurusan dan Struktur Organisasi Komunitas Historia

Sejak berdirinya, kepengurusan Komunitas Historia berganti-ganti. Kepengurusan Komunitas Historia didasarkan atas struktur organisasi umum yang berlaku di dalam masyarakat, yang terdiri dari:

Ketua : Asep Kambali [Pendiri]

Koordinator Eksekutif : Adrianus Waranei Muntu
Koord. Bidang Sejarah : Mahendra Setiawan
Koord. Bidang Seni & Budaya : Gadis Widayanti Alun

Koord. Bidang Pendidikan & Kaderisasi : Hendra Tanu Wijaya
Koord. Bidang Pariwisata : Achmad Seftian


F. Makna Logo Komunitas Historia

1. Logo Komunitas Historia






2. Makna Logo Komunitas Historia

a.Tapak Kaki: Melambangkan jejak langkah dalam sejarah kehidupan manusia beserta kebudayaannya.

b.Pita Merah Putih: Melambangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia

c.Background:Warna Biru-langit: Melambangkan lautan Indonesia yang kaya dengan sumber daya alamnnya. Warna Kuning-kecoklatan: Melambangkan daratan Indonesia yang kaya sumber daya alam dan budayanya.

d.Tulisan Komunitas Historia: Melambangkan kumpulan masyarakat yang menjadi anggota, mereka yang bergelut, menyukai mencintai dan peduli terhadap sejarah dan budaya beserta segala peninggalan heritages (pusaka) Indonesia, yang tergabung ke dalam Komunitas Historia.


G. Tagline atau Motto Komunitas Historia

Motto Komunitas Historia pertama kali adalah “Belajar dari Sejarah”. Dimana setiap pengurus dan anggotanya dengan mempelajari sejarah adalah berarti “belajar dari sejarah.” Namun, dalam konteks ini belajar dari sejarah itu adalah bahwa setiap pengurus dan anggota Komunitas Historia hendaknya bisa dari belajar dari pengalaman masa lalu bangsa kita.

Maknanya, jika dulu kita pernah dijajah, hidup menderita dan mati mengenaskan, saat ini seharusnya kita berjuang dalam mengisi kemerdekaan agar tidak dijajah oleh bangsa lain dalam bentuk apapun.

“We learn History and Culture for learning the Present and building the Future” merupakan motto kedua dari Komunitas Historia yang muncul pada tahun 2005. Motto ini bermakna bahwa dengan belajar sejarah dan budaya kita sebenarnya mempelajari hari ini dan dalam upaya pencapaian dan pembangunan masa depan dengan berpijakan ke masa lampau.

Motto ketiga, adalah “Membangun Kesadaran Sejarah dan Budaya” inilah motto terakhir dari Komunitas Historia. Motto ini sesuai dengan cita-cita, seperti yang tertuang di dalam visi dan misi, Komunitas Historia. Ini adalah tujuan mulya bukan tujuan akhir. Pencapaian masyarakat yang sadar sejarah dan budaya Indonesia ini merupakan proses yang lama dan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Hal ini disadari betul oleh segenap pengurus dan seluruh anggotanya. Komunitas Historia hanya berusaha dari hal terkecil menuju sesuatu yang besar dan bermanfaat bagi negeri ini.


H. Keanggotan Komunitas Historia

Beberapa tahun terakhir, selama kurun waktu empat tahun, anggota Komunitas Historia terus bertambah. Tercatat jumlah anggota per Juni 2008 berjumlah hampir 2055-an anggota. Bertambahnya anggota di satu sisi dapat menjadi keunggulan, tetapi di sisi lain dapat juga menjadi ancaman bagi Komunitas Historia itu sendiri. Anggota yang banyak dapat menjadi keunggulan jika pengelolaannya ditangani dengan baik. Begitu pula sebaliknya, jika ditangani secara tidak serius maka akan menjadi ancaman.

“Dengan sistem keanggotaan yang tidak mengikat, komunitas ini benar-benar menjadi wadah bagi pencinta sejarah dan budaya. Maka itu, anggotanya bisa datang dan pergi. Mereka yang memang cinta sejarah, akan setia dan bertahan. Kalau pun tidak terlalu cinta, bisa juga tetap bergabung, sekadar menambah teman…”


J. Sahabat Historia

Dalam setiap aktivitasnya Komunitas Historia selalu merangkul berbagai pihak yang memiliki kepedulian dan penghargaan yang sama terhadap sejarah dan budaya bangsa. Mereka yang telah bekerjasama dengan Komunitas Historia terus dilibatkan dalam berbagai kegiatan berikutnya dan begitupun sebaliknya, ketika mereka (para institusi yang pernah bekerjasama dengan Komunitas Historia) mengadakan kegiatan berikutnya selalu melibatkan Komunitas Historia mereka yang pernah bekerjasama dengan Komunitas Historia dinamakan sebagai Mitra Komunitas Historia.

0 komentar:

 

©2002-2012 KOMUNITAS HISTORIA INDONESIA | Founded by Asep Kambali